Mental Generasi Z
Kesehatan
mental adalah kondisi batin manusia yang bisa mempengaruhi perilaku dan emosi. Memang
penyebabnya tidak terlihat secara fisik, akan tetapi dapat dirasakan bagi
pelaku dan orang terdekatnya dan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Jika
kesehatan mental terganggu, maka timbul gangguan mental atau penyakit mental.
Gangguan mental dapat mengubah cara seseorang dalam menangani stres,
berhubungan dengan orang lain, membuat pilihan, dan memicu hasrat untuk
menyakiti diri sendiri. Kondisi psikologis dan kesehatan mental generasi
Z tidak sebaik anggapan banyak orang. Penyakit mental yang sering menghantui gen Z mulai dari
rasa takut, was-was, kepanikan, kepikiran hal-hal yang belum terjadi, trauma,depresi
ataupun yang lainnya sering mengganggu. Fakta bahwa hal ini dialami oleh remaja
tentulah sangat memprihatinkan. Di negara kita sendiri, sangat
sedikit penelitian yang fokus melakukan riset tentang jumlah remaja yang
memiliki gangguan mental. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan mental masih merupakan
sesuatu yang tabu dan tersembunyi di masyarakat kita. Padahal, hal tersebut
bukanlah sesuatu yang dapat dikesampingkan begitu saja. Menurut WHO, sebanyak
10-20% anak dan remaja di seluruh dunia mengalami gangguan secara psikis.
Separuh penyakit kejiwaan ditemukan sejak usia semuda 14 tahun. 5-15% remaja
berusia 12-18 tahun memiliki kecenderungan untuk melakukan percobaan bunuh
diri, tersebar di negara-negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia.
Menurut
penelitian American Psychological Association (APA) tahun 2018 berjudul “Stress in America: Generation Z”, anak muda usia 15 sampai 21 tahun adalah kelompok manusia
dengan kondisi kesehatan mental terburuk dibandingkan dengan generasi-generasi
lainnya. Stres yang dialami banyak orang dalam generasi Z disebabkan
oleh beberapa hal. Peningkatan angka bunuh diri, peningkatan laporan terhadap
kasus kekerasan dan pelecehan seksual, hingga pemanasan global dan perubahan
iklim adalah beberapa faktor pemicu stres generasi Z. Generasi Z juga merasakan
stres akibat informasi-informasi tak terbendung yang beredar di sekitarnya.
Banyaknya jumlah media massa yang berbasis internet atau media daring membuat
generasi Z semakin dekat dengan informasi dari seluruh dunia. Ditambah
lagi, dengan banyaknya waktu yang dihabiskan untuk mengakses internet.
Lama-kelamaan, pengetahuan mereka menjelma menjadi sebuah bentuk kekhawatiran
yang menjadi tekanan untuk diri mereka sendiri. Ternyata, generasi ini
memanfaatkan dunia virtual sebagai tempat “pelarian” dari kehidupan nyata.
Sayangnya, internet bisa membuat kondisi kesehatan mental generasi Z
menjadi lebih buruk. Bukan hanya stres, hasil lain dari keakraban
generasi Z dengan teknologi adalah terganggunya kondisi psikologis. Generasi Z
akrab dengan video games,
permainan berbasis gadget dan
internet yang menjadi sumber hiburan bagi banyak orang. Padahal, menurut
Weinstein (2010), banyak bermain video
games bisa menyebabkan ketidak mampuan untuk mengatur rasa frustasi,
rasa takut, kegelisahan, dan menurunnya nilai di sekolah.
Jika
tidak sadar akan pentingnya kesehatan mental, masa depan generasi Z akan
terancam karena bisa jadi dengan segala potensi yang dimiliki serta mimpi yang
mereka punya, bisa menjadi penghambat jika ada masalah mental yang tidak
terselesaikan serta berlarut dalam waktu yang lama. Kalau sudah begini,
Indonesia secara pembangunan negara pun akan ikut terhambat karena gen Z adalah
generasi penerus bangsa. Maka dari itu, jika sudah menunjukan gejala
terganggunya kesehatan mental hendaknta langsung cari bantuan. Bisa mencari
psikolog lewat aplikasi penyedia platform untuk para dokter di smartphone atau
bisa ke komunitas yang bergerak di bidang kesehatan mental, atau minimal
berbagi cerita dengan orang yang benar – benar dipercayai.
DAFTAR PUSTAKA
·
Haryadi,
Selma Kirana. 2019. Darurat Kesehatan Mental Generasi Z. https://muda.kompas.id/baca/2019/04/12/darurat-kesehatan-mental-generasi-z/.
Diakses tanggal 7 Oktober 2020.
·
Tujuan,
Seribu. 2020. Apa Itu Kesehatan Mental. https://www.seributujuan.id/id/apa-itu-kesehatan-mental.
Diakses tanggal 7 Oktober 2020
Komentar
Posting Komentar